oleh

Rehabilitasi Medik Pasien Stroke Pada Masa Pandemi

PB PERDOSRI – 28 Oktober 2021

Pengantar

Stroke adalah suatu keadaan di mana ditemukan tanda klinis yang berkembang cepat berupa defisit neurologik fokal dan global, yang dapat memberat dan berlangsung lama selama 24 jam atau lebih dan atau dapat menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskular.

Menurut data World Stroke Organization, terdapat 13,7 juta kasus baru stroke setiap tahun dan 5,5 juta kematian yang disebabkan oleh stroke. Stroke dapat memengaruhi produktivitas seseorang.

Pasien yang terkena stroke memerlukan penanganan dan cepat dan tepat sehingga dampat buruk dari stroke dapat diminimalisir.

Berikut merupakan tips untuk mengenali gejala dan tanda stroke dengan slogan “SeGeRa Ke RS”

  1. Senyum tidak simetris (mencong ke satu sisi), tersedak, sulit menelan air minum secara tiba-tiba
  2. Gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba
  3. bicaRa pelo/tiba-tiba tidak dapat bicara, tidak mengerti kata-kata/, berbicara tidak nyambung
  4. Kebas atau baal, atau kesemutan separuh tubuh
  5. Rabun, pandangan satu mata kabur, terjadi tiba-tiba
  6. Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan tidak pernah dirasakan sebelumnya. Terasa berputar/sempoyongan, gerakan sulit dikoordinasi

Gejala atau tanda lain yang mungkin dialami yaitu penurunan kesadaran/pingsan, kejang, dan muntah mendadak tanpa didahului mual.  Jika menemukan gejala dan tanda tersebut, segera bawa pasien ke Rumah Sakit.

Pasien stroke perlu mendapatkan rehabilitasi medik sedini mungkin dengan tujuan untuk mengoptimalkan pemulihan dan atau memodifikasi gejala sisa yang ada agar penyandang stroke mampu melakukan aktivitas fungsional secara mandiri, dapat beradaptasi dengan lingkungan dan mencapai hidup yang berkualitas.

Setelah pasien diperbolehkan pulang dari rumah sakit, pasien akan mendapatkan jadwal oleh dokter untuk kontrol di Rumah Sakit. Pada masa pandemi COVID-19, untuk mengurangi rantai penularan, pasien dan pengantar datang ke rumah sakit sesuai waktu yang sudah ditentukan untuk mengurangi kerumunan dan perlu menerapkan protokol kesehatan:

  • Menggunakan masker dengan benar
  • Menjaga jarak dengan orang lain minimal 1,5 meter
  • Mencuci tangan menggunakan sabun.

Selain itu, dapat dipertimbangkan menggunakan tele-rehabilitasi dengan pendamping yang bisa membantu memberikan intervensi. Rehabilitasi stroke memerlukan kerja sama dari tim rehabilitasi medik, pasien, keluarga, pendamping/pemberi perawatan, dan komunitas.

Tim rehabilitasi akan memeriksa beberapa aspek yaitu fungsi kognitif, komunikasi, fungsi emosi, perawatan diri, kemampuan menelan, penglihatan, gerakan yang mampu dilakukan, dan kemampuan untuk kembali bekerja.

Latihan yang dapat diberikan di rumah termasuk latihan menelan, latihan komunikasi, rehabilitasi multidisiplin secara virtual, dan pemberian video melalui grup kelas rehabilitasi.

Latihan dapat dilakukan di rumah dengan durasi 45 menit untuk setiap terapi, selama minimal 5 hari dalam seminggu, dengan tetap mempertimbangkan kondisi pasien dan arahan dari tim rehabilitasi medik.

Beberapa Rehabilitasi Stroke yang bisa dilakukan di rumah

  1. Persepsi

Pada gangguan persepsi pasien dapat mengalami neglect atau abai terhadap salah satu sisi, latihan yang dapat dilakukan di rumah,  diantaranya:

  • Tim rehabilitasi atau pendamping pasien duduk pada sisi yang abai untuk menarik perhatian ke sisi tersebut.
  • Atur lingkungan pasien untuk menstimulasi sisi yang abai

Misal: Letakkan televisi, foto keluarga, atau bunga pada sisi yang abai dan beri kertas berwarna di bawahnya, kemudian minta pasien untuk mencari/melihat benda tersebut tanpa memberi tahu benda tersebut berada di sisi mana.

Minta pasien untuk mengikuti tangan pendamping dalam menyentuh foto tersebut, lebih baik jika pasien dapat menyentuhnya sendiri. 

  • Stimulasi lengan yang abai dengan pijatan yang lembut, akan lebih baik jika pasien sendiri yang melakukannya.
  • Jika pasien menggunakan kursi roda, pastikan lengan sisi abai ditopang dengan baik dan berada dalam pandangan pasien.
  1. Penentuan Posisi dan Manajemen Anggota Gerak Atas
  • Posisi Duduk
  • Lengan sisi yang lemah ditopang dan diberi bantalan
  • Kaki memijak lantai atau pijakan kaki yang rata.
  • Posisi Tidur
  • Saat berbaring miring ke sisi lemah

Bahu tidak boleh tertindih dan harus terdorong agak ke depan, letakkan kepala pada bantal setebal lebar bahu, siku lurus, telapak tangan menghadap ke atas. Lutut pada sisi lemah sedikit ditekuk. Tungkai yang sehat sedikit ditekuk pada panggul dan lutut terletak di depan tungkai yang lemah.

  • Saat berbaring miring ke sisi sehat

ahu ke depan (diganjal menggunakan bantal), siku lurus, telapak tangan menghadap ke bawah, tungkai yang lemah ke depan, ditekuk pada panggul dan lutut, diganjal menggunakan bantal. Tungkai yang sehat berada di bawah.

  • Posisi telentang

Letakkan lengan yang lemah lebih tinggi dari jantung, bahu diganjal bantal, siku lurus, tangan menghadap ke atas, dan jari-jari lurus. Tungkai yang lemah diposisikan lurus dan hindari perputaran panggul.

  1. Aktivitas Sehari-hari

      Aktifitas sehari hari pada pasien stroke dapat terganggu, pasien dapat menjadi sangat tergantung kepada pendamping atau keluarga. Dengan tatalaksana rehabilitasi medik pasien akan dilatih untuk mengembangkan kemampuannya agar dapat menjadi lebih mandiri dalam melakukan aktifiras sehari hari. Beberapa contoh program latihan dirumah yang dapat dilakukan adalah

  • Sikat gigi: gunakan bantuan gagang sikat gigi yang mudah dipegang
  • Mandi: gunakan bantuan kursi jika diperlukan, pasang pegangan tangan pada kamar mandi
  • Mencuci tangan: bila tidak memungkinkan untuk mencuci tangan di wastafel, dapat disiapkan 2 wadah di meja (1 berisi air hangat dan sabun, 1 berisi air bersih).
  • Memakai baju: kenakan baju pada tubuh dimulai dari sisi lengan yang lemah dibantu dengan lengan yang sehat, dilanjutkan lengan yang sehat. Kemudian pasang kancing meunggunakan lengan yang sehat.
  • Memakai kaos kaki: gunakan kaos kaki yang longgar dan tidak terlalu panjang. Pada posisi duduk, letakkan kaki yang lemah di atas kaki sehat (dapat dibantu dengan tangan yang sehat), pasang kaos kaki menggunakan tangan yang sehat.
  • Memakai sepatu: sepatu tanpa tali lebih muda digunakan. Pada posisi duduk, letakkan kaki yang lemah di atas kaki sehat (dapat dibantu dengan tangan yang sehat), pasang sepatu menggunakan tangan yang sehat. Kemudian masukkan kaki sehat pada sepatu (dapat dibantu dengan alat misal besi yang tipis dan panjang untuk menahan bagian belakang sepatu agar bagian belakang kaki bisa masuk ke sepatu dengan mudah.
  • Memakai celana: jika menggunakan ikat pinggang, pasang ikat pinggang di celana sebelum digunakan. Pada posisi duduk, letakkan kaki yang lemah di atas kaki sehat (dapat dibantu dengan tangan yang sehat), kenakan celana pada kaki menggunakan tangan yang sehat hingga ujung, kemudian kenakan pada kaki yang sehat. Lalu pasien berdiri (dapat dibantu oleh pendamping) dan tarik celana bagian atas hingga ke pinggang.
  1. Ambulasi

Beberapa latihan rehabilitasi medik yang dapat dilakukan dirumah adalah pasien dapat berlatih untuk duduk, berdiri, dan berjalan apabila sudah dinilai stabil oleh dokter. Tim rehabilitasi akan menilai apakah pasien perlu menggunakan alat bantu berjala seperti kursi ruda atau alat bantu yang lain.

Latihan berjalan disesuaikan kemampuan pasien, dilakukan terus menerus dan sesering mungkin. Terapi latihan dasar persiapan berjalan terdiri dari terapi latihan peregangan, penguatan, dan re-edukasi otot.

Pasien dengan gangguan gerak setelah stroke akan mendapatkan fisioterapi, latihan kebugaran, latihan kekuatan, latihan melakukan tugas secara berulang.

  1. Latihan Anggota Gerak
  • Constraint-Induced Movement Therapy: dengan cara mengikat tangan sisi sehat menghindari penggunaannya, dan memaksa tangan sisi lemah untuk digunakan pada aktivitas sehari-hari.  Metode ini hanya dapat digunakan jika pasien sudah mampu meluruskan jari minimal 10 derajat, mempunyai keseimbangan duduk dan kognisi yang baik.
  • Mental practice merupakan terapi tambahan untuk memperbaiki fungsi anggota gerak atas setelah stroke. Pasien diminta untuk mengimajinasikan melakukan tugas tertentu dengan tanagn sisi lemah atau melihat seseorang melakukan tugas tertentu dan mengimajinasikan seakan dilakukan oleh sisi tangan yang lemah.
  1. Fungsi Kognitif

Latihan untuk gangguan fungsi eksekusi (kemampuan merencanakan, melaksanakan, menyelesaikan masalah, dan memonitor hasil). Perlu diberikan teknik kompensasi seperti alat pengingat untuk mengarahkan fungsi aktivitas sehari-hari, atau melakukan latihan berulang-ulang aktivitas yang ingin diajarkan. Bila pasien belum mampu mengingat banyak, aktivitas dapat dibagi dalam beberapa bagian.

  1. Latihan Menelan

Stroke dapat mengenai area otak untuk fungsi menelan, setelah di lakukan assesment menelan  oleh dokter SpKFR maka dapat ditentukan jenis latihan yang tepat. Diantaranya adalah terapi latihan menelan melalui modifikasi jenis dan kepadatan makanan dimulai dari makanan padat lunak, bertahap ke makanan cair, cairan (juice), dan terakhir air. Tim rehabilitasi medik akan menilai kapan pasien boleh mulai diberikan makanan melalui mulut, karena gangguan menelan dapat berisiko pasien menjadi tersedak dan terjadi komplikasi infeksi paru.

  1. Latihan Komunikasi

Dari hasil asesment SpKFR biasanya didapatkan jenis tipe gangguan komunikasi yang terjadi pada pasien stroke. Salah satu tatalaksana yang dapat dilakukan adalah dengan mengatur postur punggung lurus baik pada posisi berbaring, duduk, atau berdiri. Pasien mengambil napas separuh penuh dan menghembuskan napas teratur dengan mengucapkan fonem yang mudah dikontrol pasien. Lebih baik pasien mengucapkan suku kata dan kata-kata yang bermakna. Pasien dilatih untuk bicara lebih lambat sambil menambah penekanan pada suku kata atau kata. Akan dilakukan penilaian oleh terapi wicara.

        Kompleksnya gangguan fungsi yang terjadi pada pasien stroke memerlukan assesment selengkap mungkin oleh dokter SpKFR  untuk kemudian mendapatkan tatalaksana secara lengkap dan komprehensif sedini mungkin dari tim Rehabilitasi Medik.

REFERENSI

  1. Kemenkes. INFODATIN Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI Stroke Don’t be the One. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2019.
  2. NHS. Clinical Guide for the Management of Stroke Patients during the Coronavirus Pandemic. Royal College of Physicians. 2020. Available from: https://www.nice.org.uk/media/default/about/covid-19/specialty-guides/specialty-guide-stroke-and-coronavirus.pdf 
  3. National Clinical Guideline Centre. Stroke Rehabilitation, Long term rehabilitation after stroke. National Clinical Guideline Centre. 2013 Available from: http://www.nice.org.uk/guidance/cg162
  4. Regional Stroke Network. COVID-19 Support Resources, Stroke Guidance Documents. Champlain Regional Stroke Network. Ottawa: 2021. Available from: https://crsn.ca/en/clinical-tools-resources/covid-19-resources
  5. Konsensus Nasional Rehabilitasi Stroke. Panduan Rehabilitasi Stroke. Jakarta: Perdosri. 2014.

Sumber : PB PERDOSI

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.